Panduan Lengkap: Bikin Surat Undangan Turut Mengundang yang Keren & Anti Ribet!

Table of Contents

Pernahkah kamu menerima surat undangan, terutama undangan pernikahan atau acara resmi, yang di bagian bawahnya ada deretan nama-nama selain nama penyelenggara utama? Nah, itulah yang namanya surat undangan dengan konsep “turut mengundang”. Istilah ini mungkin terdengar sederhana, tapi punya makna dan fungsi penting dalam konteks sosial dan formal di Indonesia.

contoh surat undangan pernikahan
Image just for illustration

Secara garis besar, surat undangan “turut mengundang” adalah undangan yang secara resmi juga mencantumkan nama-nama pihak lain selain tuan rumah utama sebagai bagian dari pengundang. Ini bukan sekadar formalitas kosong, lho. Ada tujuan dan makna di baliknya yang penting untuk dipahami, terutama kalau kamu berencana mengadakan acara besar dan ingin melibatkan orang-orang terdekat atau penting.

Apa Sih Sebenarnya Turut Mengundang Itu?

Jadi, apa bedanya surat undangan biasa dengan yang “turut mengundang”? Pada surat undangan biasa, nama pengundang utama biasanya hanya satu atau dua pihak, misalnya nama pengantin (jika mereka yang mengundang) atau nama orang tua pengantin, atau nama institusi/komite penyelenggara acara.

struktur surat undangan resmi
Image just for illustration

Sementara itu, pada undangan yang mencantumkan “turut mengundang”, ada tambahan daftar nama di bagian bawah atau di sisi yang lain. Daftar nama ini berisi orang-orang yang juga ikut mengundang, meskipun mungkin bukan penyelenggara utama atau yang membiayai acara. Mereka ikut “menitipkan” nama mereka dalam undangan tersebut sebagai bentuk dukungan, penghormatan, atau pengakuan terhadap status/peran mereka dalam acara tersebut.

Kenapa Menggunakan Konsep Turut Mengundang?

Ada beberapa alasan kuat kenapa seseorang atau sebuah organisasi memilih menggunakan konsep “turut mengundang” ini. Ini bukan cuma gaya-gayaan, tapi ada makna yang dalam, terutama dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi kekeluargaan dan kebersamaan.

Pertama, menambah prestise atau kehormatan pada acara. Dengan mencantumkan nama-nama tokoh penting, sesepuh keluarga, atau pejabat, undangan tersebut secara otomatis punya bobot yang lebih. Tamu yang diundang mungkin merasa lebih terhormat karena tidak hanya diundang oleh penyelenggara utama, tapi juga oleh tokoh-tokoh yang dihormati.

Kedua, menunjukkan dukungan atau restu dari pihak-pihak yang namanya tercantum. Dalam konteks pernikahan, mencantumkan nama kakek-nenek, om dan tante (dari garis keturunan tertentu yang dihormati), atau sesepuh adat bisa menunjukkan bahwa pernikahan ini mendapatkan restu penuh dari keluarga besar. Ini penting dalam banyak tradisi.

Ketiga, bentuk apresiasi atau pengakuan terhadap peran mereka. Mungkin ada anggota keluarga besar yang tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan atau pembiayaan, tapi peran mereka dalam keluarga sangat penting. Mencantumkan nama mereka sebagai “turut mengundang” adalah cara untuk menghargai posisi mereka. Untuk acara resmi, ini bisa jadi pengakuan terhadap dewan pengawas, penasihat, atau tokoh pendiri.

Keempat, membantu menyebarkan informasi. Kadang, orang-orang yang “turut mengundang” ini punya jaringan sosial sendiri yang luas. Dengan nama mereka tercantum di undangan, mereka merasa punya tanggung jawab (atau setidaknya dorongan) untuk membantu menyebarkan undangan tersebut kepada kenalan atau kerabat mereka.

Siapa Saja yang Biasanya Turut Mengundang?

Pihak-pihak yang dicantumkan sebagai “turut mengundang” sangat bervariasi, tergantung jenis acara dan tradisi yang dianut.

  • Dalam Undangan Pernikahan: Ini adalah contoh paling umum. Biasanya yang dicantumkan adalah:

    • Kakek dan Nenek dari kedua mempelai.
    • Para Paman (Om) dan Bibi (Tante) dari pihak orang tua mempelai (terutama dari garis keturunan tertentu, misalnya bapak atau ibu, tergantung adat).
    • Sesepuh adat atau tokoh masyarakat yang dihormati dalam keluarga besar.
    • Kadang, saudara kandung tertua dari orang tua mempelai.
  • Dalam Undangan Acara Resmi (Organisasi/Institusi):

    • Dewan Pembina atau Dewan Pengawas.
    • Penasihat Organisasi.
    • Tokoh Pendiri atau Mantan Pimpinan yang masih aktif.
    • Pimpinan dari divisi atau unit kerja terkait.
    • Tokoh masyarakat atau pejabat pemerintah yang mendukung acara tersebut.
  • Dalam Undangan Acara Keluarga/Sosial Lain (Syukuran, Selamatan, Ulang Tahun Besar):

    • Kakek dan Nenek.
    • Paman dan Bibi.
    • Sesepuh keluarga atau kampung.
    • Tokoh agama atau tokoh masyarakat di lingkungan sekitar.

Penting untuk diingat bahwa mencantumkan seseorang sebagai “turut mengundang” sebaiknya sudah melalui kesepakatan atau setidaknya pemberitahuan kepada yang bersangkutan, apalagi jika acaranya cukup formal. Ini adalah bentuk etiket yang baik.

Bagian-Bagian Penting Surat Undangan Turut Mengundang

Struktur dasar surat undangan “turut mengundang” mirip dengan surat undangan pada umumnya, namun ada penambahan spesifik. Berikut adalah elemen-elemen kunci yang biasanya ada:

  1. Kop Surat (Jika Ada): Untuk undangan resmi organisasi/institusi, kop surat berisi nama, logo, alamat, dan kontak lembaga. Untuk undangan pribadi (seperti pernikahan), kop surat biasanya tidak ada, atau diganti dengan desain khas.
  2. Nomor, Lampiran, Perihal: Khusus untuk undangan resmi, ini standar administrasi. Nomor surat, jumlah lampiran (jika ada), dan perihal yang jelas (misal: Undangan Peresmian Gedung).
  3. Tanggal Surat: Tanggal dibuatnya surat undangan.
  4. Penerima Undangan: Kepada siapa undangan ini ditujukan, biasanya diawali dengan “Kepada Yth.” atau “Yang Terhormat”. Bisa perseorangan atau umum (misal: Seluruh Anggota).
  5. Salam Pembuka: Salam formal (misal: Dengan hormat,) atau semi-formal (misal: Assalamu’alaikum Wr. Wb.).
  6. Isi Undangan: Penjelasan mengenai acara yang akan diselenggarakan. Mencakup jenis acara, tujuan, dan deskripsi singkat (jika perlu).
  7. Waktu dan Tempat: Hari, tanggal, jam, dan lokasi acara dengan detail (nama gedung/tempat, alamat lengkap).
  8. Susunan Acara Singkat (Opsional): Terutama untuk acara resmi atau formal.
  9. Yang Mengundang (Penyelenggara Utama): Nama pihak yang punya hajat atau menyelenggarakan acara. Ini adalah nama utama.
  10. Bagian “Turut Mengundang”: Nah, ini dia bagian kuncinya. Biasanya diberi judul “Turut Mengundang:” atau “Turut Mengundang Beserta Keluarga:”. Di bawah judul ini, tersusun daftar nama-nama yang turut mengundang. Peletakannya seringkali di bagian bawah undangan, di sisi kiri atau kanan, atau di bagian belakang undangan (terutama untuk pernikahan).
  11. Salam Penutup: Salam formal (misal: Hormat kami,) atau semi-formal.
  12. Nama dan Tanda Tangan: Nama jelas dan tanda tangan (jika undangan resmi) dari pihak penyelenggara utama.

Peletakan bagian “Turut Mengundang” ini krusial. Untuk undangan pernikahan, seringkali nama orang tua mempelai ada di atas, baru di bawahnya ada deretan nama kakek/nenek, om/tante, dll., di bawah judul “Turut Mengundang:”. Untuk acara resmi, nama ketua panitia atau pimpinan utama ada di bagian ‘Yang Mengundang’, lalu nama dewan atau penasihat di bagian ‘Turut Mengundang’.

Perbedaan Mendasar dengan Surat Undangan Biasa

Perbedaan utamanya jelas terletak pada keberadaan bagian “Turut Mengundang” tersebut.

Fitur Surat Undangan Biasa Surat Undangan Turut Mengundang
Pihak Pengundang Hanya mencantumkan nama penyelenggara utama. Mencantumkan nama penyelenggara utama PLUS daftar nama pihak lain sebagai “turut mengundang”.
Jumlah Nama Lebih sedikit, hanya yang relevan sebagai host. Lebih banyak, mencakup host dan pihak-pihak yang dihormati/terlibat secara tidak langsung.
Tujuan Khusus Menginformasikan dan mengajak kehadiran. Menambah bobot, menunjukkan dukungan, menghormati, dan mengajak kehadiran.
Konteks Penggunaan Beragam acara, dari formal sampai informal. Cenderung untuk acara yang lebih formal, besar, atau yang melibatkan banyak pihak dalam keluarga/organisasi.

Memahami perbedaan ini membantu kamu menentukan jenis undangan mana yang paling sesuai dengan acara yang akan kamu selenggarakan.

Tips Menulis Surat Undangan Turut Mengundang

Menulis surat undangan ini butuh ketelitian, apalagi menyangkut nama banyak orang. Ini beberapa tipsnya:

  1. Pastikan Nama dan Gelar Benar: Ini mutlak! Salah menulis nama atau gelar seseorang yang dihormati bisa dianggap kurang sopan. Verifikasi lagi ejaan nama dan gelar akademik, jabatan, atau gelar kebesaran adat dari semua orang yang akan dicantumkan.
  2. Konsultasikan Daftar Nama: Sebelum mencetak undangan, sebaiknya daftarkan nama-nama yang akan dicantumkan sebagai “turut mengundang” kepada pihak penyelenggara utama (misalnya orang tua mempelai) atau kepada perwakilan dari daftar nama itu sendiri (misal: wakil dari keluarga besar) untuk persetujuan dan koreksi.
  3. Perhatikan Urutan Nama: Dalam daftar “turut mengundang”, biasanya ada urutannya. Untuk keluarga, seringkali diurutkan berdasarkan senioritas (dari yang paling tua/dihormati). Untuk organisasi, bisa berdasarkan struktur jabatan atau abjad. Tanyakan tradisi yang berlaku jika kamu tidak yakin.
  4. Gunakan Bahasa yang Tepat: Karena sering digunakan untuk acara formal atau semi-formal, gunakan bahasa yang sopan dan formal. Hindari singkatan atau bahasa gaul yang berlebihan.
  5. Desain yang Jelas: Pastikan bagian “Turut Mengundang” terlihat jelas, tidak terlalu kecil atau tersembunyi. Judul “Turut Mengundang:” harus mudah dibaca.
  6. Cetak Uji Coba: Sebelum mencetak dalam jumlah banyak, cetak satu atau dua eksemplar sebagai proofing. Periksa semua detail, termasuk nama, tanggal, waktu, lokasi, dan ejaan secara keseluruhan. Minta orang lain untuk ikut memeriksa juga.

Fakta Menarik Seputar Tradisi Turut Mengundang di Indonesia

Konsep “turut mengundang” ini sangat kental dengan budaya ketimuran, khususnya di Indonesia. Ini mencerminkan nilai-nilai seperti:

  • Gotong Royong: Meskipun ada penyelenggara utama, acara besar seringkali dianggap sebagai hajat bersama keluarga besar atau komunitas. Mencantumkan nama banyak pihak menunjukkan semangat kebersamaan dalam menyukseskan acara.
  • Penghormatan pada Sesepuh: Dalam banyak budaya di Indonesia, penghormatan pada orang tua dan sesepuh sangat penting. Mencantumkan nama kakek-nenek atau paman/bibi tertua di undangan adalah bentuk pakurmatan (penghormatan) yang tinggi.
  • Jaringan dan Silaturahmi: Acara seperti pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tapi juga dua keluarga besar. Dengan mencantumkan nama banyak pihak, undangan ini sekaligus berfungsi sebagai pengingat dan sarana silaturahmi bagi keluarga besar dan jaringan sosial mereka.

cultural significance of gotong royong
Image just for illustration

Tradisi ini mungkin bervariasi di setiap daerah atau keluarga, tapi intinya sama: melibatkan lebih banyak pihak dalam sebuah undangan adalah cara untuk membangun dan memperkuat ikatan sosial serta menunjukkan bahwa acara tersebut didukung oleh komunitas atau keluarga besar.

Contoh-Contoh Surat Undangan Turut Mengundang

Nah, ini bagian yang paling ditunggu. Kita akan lihat beberapa contoh template untuk berbagai jenis acara. Kamu bisa modifikasi sesuai kebutuhanmu.

Contoh 1: Undangan Pernikahan

Ini contoh paling klasik. Biasanya mencantumkan nama orang tua mempelai sebagai pengundang utama, dan nama kakek/nenek/om/tante sebagai “turut mengundang”.

[Desain Undangan Khas Pernikahan]

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan memohon rahmat dan ridho Allah SWT,
Kami bermaksud mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i
untuk menghadiri acara resepsi pernikahan putra-putri kami

[Nama Lengkap Mempelai Pria]
Putra dari Bapak [Nama Ayah Mempelai Pria] & Ibu [Nama Ibu Mempelai Pria]
dengan
[Nama Lengkap Mempelai Wanita]
Putri dari Bapak [Nama Ayah Mempelai Wanita] & Ibu [Nama Ibu Mempelai Wanita]

yang Insya Allah akan diselenggarakan pada:

Hari, Tanggal : [Hari], [Tanggal Lengkap]
Waktu         : [Pukul Mulai] - [Pukul Selesai] WIB
Tempat        : [Nama Gedung/Lokasi Resepsi]
                [Alamat Lengkap Lokasi]

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir
untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai.

Atas kehadiran dan doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hormat kami yang mengundang,

[Nama Ayah Mempelai Pria]    [Nama Ayah Mempelai Wanita]
[Nama Ibu Mempelai Pria]    [Nama Ibu Mempelai Wanita]

-----------------------------------------------------------------------

**Turut Mengundang:**

[Bapak dan Ibu Nama Kakek Nenek dari pihak Pria]
[Bapak dan Ibu Nama Kakek Nenek dari pihak Wanita]
[Bapak dan Ibu Nama Om/Tante tertua dari pihak Pria (misal: Kakak Ayah/Ibu Pria)]
[Bapak dan Ibu Nama Om/Tante tertua dari pihak Wanita (misal: Kakak Ayah/Ibu Wanita)]
[Daftar nama-nama lain yang relevan, bisa per keluarga atau per nama individu]
Beserta Keluarga

Penjelasan Tambahan:

  • Tata letak “Turut Mengundang” bisa di bagian paling bawah, bisa di salah satu sisi kartu undangan (kiri/kanan), atau di halaman terpisah pada undangan lipat.
  • Format nama di bagian “Turut Mengundang” bisa hanya nama Bapak dan Ibu, atau bisa juga hanya nama Bapak (mewakili keluarga), tergantung kesepakatan keluarga.
  • Kata “Beserta Keluarga” bisa ditambahkan di akhir setiap nama atau di akhir seluruh daftar.

Contoh 2: Undangan Acara Resmi Organisasi

Digunakan untuk acara seperti peresmian, seminar besar, rapat anggota tahunan, atau pelantikan pengurus, di mana ada dewan pembina atau tokoh penting yang juga ikut mengundang.

[KOP SURAT ORGANISASI/INSTITUSI]

Nomor     : [Nomor Surat Undangan]
Lampiran  : -
Perihal   : **Undangan Acara [Nama Acara Resmi]**

Kepada Yth.
[Nama Penerima Undangan, atau Jabatan]
[Nama Institusi/Perusahaan Penerima (jika personal tidak ada)]
di -
Tempat

Dengan hormat,

Sehubungan akan diselenggarakannya acara [Nama Acara Resmi], yang bertujuan untuk [tujuan acara, misal: meresmikan gedung baru, membahas agenda strategis, dll.], kami dari [Nama Organisasi/Institusi Penyelenggara] dengan ini bermaksud mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk hadir pada acara tersebut.

Acara ini Insya Allah akan dilaksanakan pada:

Hari, Tanggal : [Hari], [Tanggal Lengkap]
Waktu         : Pukul [Jam Mulai] s/d Selesai
Tempat        : [Nama Ruangan/Gedung]
                [Alamat Lengkap]

Besar harapan kami Bapak/Ibu/Saudara/i dapat memenuhi undangan ini. Kehadiran Anda akan menjadi kehormatan dan dukungan besar bagi kelancaran acara kami.

Atas perhatian dan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i, kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,

[Jabatan Pengundang Utama, misal: Ketua Panitia/Ketua Umum Organisasi]

[Nama Lengkap Pengundang Utama]

-----------------------------------------------------------------------

**Turut Mengundang:**

[Nama dan Jabatan Tokoh 1, misal: Ketua Dewan Pembina]
[Nama dan Jabatan Tokoh 2, misal: Anggota Dewan Pengawas]
[Nama dan Jabatan Tokoh 3, misal: Penasihat Organisasi]
[Daftar nama-nama lain yang relevan dengan jabatan/peran mereka]

Penjelasan Tambahan:

  • Kop surat mutlak ada untuk undangan resmi.
  • Nomor surat, lampiran, dan perihal juga standar.
  • Bagian “Turut Mengundang” mencantumkan nama beserta jabatan/gelar mereka agar jelas peranannya.

Contoh 3: Undangan Acara Keluarga (Selain Pernikahan, misal: Syukuran Rumah Baru)

Untuk acara yang sifatnya kekeluargaan tapi melibatkan banyak anggota keluarga besar atau tetangga, bisa juga menggunakan konsep ini untuk menghormati sesepuh.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT,
kami sekeluarga bermaksud mengadakan acara **Syukuran Rumah Baru**
sebagai wujud rasa syukur kami atas karunia-Nya.

Sehubungan dengan itu, kami dengan segala kerendahan hati mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i
untuk berkenan hadir dalam acara syukuran yang Insya Allah akan dilaksanakan pada:

Hari, Tanggal : [Hari], [Tanggal Lengkap]
Waktu         : Pukul [Jam Mulai] WIB (atau setelah Shalat [Nama Shalat])
Tempat        : Rumah kami
                [Alamat Lengkap Rumah Baru]

Besar harapan kami Bapak/Ibu/Saudara/i dapat turut serta dalam kebahagiaan kami dan memberikan doa restu.

Atas perhatian dan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hormat kami,
Keluarga [Nama Kepala Keluarga]

[Nama Suami] & [Nama Istri]
Beserta Putra/Putri: [Nama Anak 1], [Nama Anak 2], dst.

-----------------------------------------------------------------------

**Turut Mengundang:**

[Bapak dan Ibu Nama Orang Tua Pihak Suami]
[Bapak dan Ibu Nama Orang Tua Pihak Istri]
[Bapak dan Ibu Nama Kakek Nenek dari salah satu pihak]
[Bapak dan Ibu Nama Om/Tante tertua]
[Nama Sesepuh Keluarga atau Tokoh Masyarakat sekitar]
Beserta Keluarga

Penjelasan Tambahan:

  • Bahasa bisa sedikit lebih santai dibanding undangan resmi, tapi tetap menjaga kesopanan.
  • Peletakan nama di bagian “Turut Mengundang” juga fleksibel, bisa disesuaikan dengan kebiasaan keluarga.

Hal Penting Lain yang Perlu Diperhatikan

Selain struktur dan isi, ada beberapa detail kecil tapi penting saat membuat dan menyebarkan surat undangan “turut mengundang”:

  • Desain: Pastikan desainnya rapi dan profesional, mencerminkan keseriusan acara. Bagian “Turut Mengundang” jangan sampai terkesan “tempelan”, tapi terintegrasi dengan baik dalam desain keseluruhan.
  • Cetak vs Digital: Saat ini, banyak undangan juga disebar secara digital. Jika menggunakan undangan digital, pastikan daftar “turut mengundang” tetap jelas dan mudah dibaca di layar perangkat. Tata letaknya mungkin perlu disesuaikan.
  • Konfirmasi (RSVP): Untuk acara yang membutuhkan kepastian jumlah tamu, sertakan informasi RSVP (Répondez s’il vous plaît) agar penerima bisa mengonfirmasi kehadiran mereka.

Membuat surat undangan “turut mengundang” memang memerlukan perhatian ekstra terhadap detail, terutama nama-nama yang dicantumkan. Tapi, jika dilakukan dengan benar, undangan ini bisa menjadi representasi yang baik dari acara yang kamu selenggarakan, menunjukkan kekompakan, penghormatan, dan dukungan dari banyak pihak.

Penutup

Membuat surat undangan, apalagi yang melibatkan banyak nama dalam daftar “turut mengundang”, memang butuh ketelitian. Tapi dengan memahami tujuan, struktur, dan tips yang sudah kita bahas, prosesnya pasti jadi lebih mudah. Ingat, undangan adalah kesan pertama bagi tamu terhadap acaramu, jadi buatlah sebaik mungkin.

Bagaimana pengalaman kamu? Pernahkah kamu membuat atau menerima surat undangan dengan konsep “turut mengundang”? Ada tips lain yang ingin kamu bagikan? Atau mungkin ada pertanyaan seputar topik ini? Yuk, bagikan cerita atau pertanyaan kamu di kolom komentar di bawah! Kita ngobrol santai di sini.

Posting Komentar